Kisah ini saya ambil dari buku tulisan ibu Murti Bunanta dengan judul yang sama.
Selain kisah ini relevan dengan perayaan hari ibu di Alun Alun Grand Indonesia, kisah ini dimata saya adalah kontra dari kisah Malin Kundang.
Jika dalam kisah Malin Kundang sang anak durhaka menjadi batu, maka dalam kisah ini justru si ibu yang mendapat hukuman dari para dewa karena menelantarkan anak nya. Tapi, buntutnya tetap anak yang menderita. Kalau kisah Malin Kundang si anak menjadi batu - maka dalam kisah ini si anak menjadi seekor burung.
Ketika saya membaca kisah ini, ada sebuah pertanyaan yang sangat mengganggu kalbu saya. Mengapa selalu anak yang di korbankan?
Contohnya,
Anak durhaka maka ia menjadi batu...
Ibu yg menelantarkan anak, maka anak menjadi burung...
Untuk mengatasi lalu lintas jakar, maka anak masuk sekolah pukul 6.30 pagi...
Sungguh negeri ini tidak pernah ramah pada anak anak nya....

1 comments:
tidak ada pilihan lain. Takdir dab atau karma namanya. Kalau ibu/bapaknya yg jadi korban atau susah, anak akan lebih menderita/susah lagi.
Contoh:
Hormatilah ibu bapakmu
Surga ditelapak kaki ibu
Tidak ada tertulis
Hormatilah anakmu
Surga ditelapak kaki anak
Poet.poet.
Salam kenal. Engkong
Post a Comment