Monday, September 01, 2008

DONGENG DI BENGALON – 19 Agustus pukul 14:00




Bengalon adalah nama sebuah desa dengan jarak tempuh selama 1 jam dari jantung kota Sangatta. Satu jam tanpa macet dan berjumpa dengan kendaraan lain ditambah dengan jalan berkelok dan rusak. Untuk sampai di Bengalon mobil harus mampu mendaki bukit tinggi dan dibutuhkan orang yang handal untuk mengendarai mobil 4 wheel drive.

3 tahun yang lalu ketika saya ke Bengalon jalanan masih jauh lebih baik ketimbang waktu kunjungan kali kedua saya. Di mobil saya tak henti hentinya menikmati langit berwarna biru yang luar biasa indahnya. Walaupun kepala tidak henti hentinya bergoyang kekiri dan kekanan karena jalanan berlubang lubang.

Setiba di Bengalon saya tidak habis habisnya menahan senyum. Karena kejadian 3 tahun yang lalu kembali terulang. Jumlah undangan melebihi kapasitas di tambah para ibu yang berusaha masuk dan duduk dalam aula yang kecil. Suasana aula menjadi sangat panas dan tidak nyaman bagi para anak anak Taman Kanak Kanak yang telah hadir. Sungguh tidak mudah membujuk para ibu untuk keluar untuk memberikan ruang yang layak bagi 150 anak Taman Kanak Kanak yang telah hadir.

Akhirnya mereka mau keluar dan hanya mengintip dari jendela. Karena para ibu memenuhi jendela akhirnya udara tetap terasa panas karena tubuh para ibu menutupi seluruh jendela yang ada.

Sama seperti ketika saya mendongeng di Bengalon 3 tahun yang lalu, pengalaman disini selalu luar biasa. 3 tahun yang lalu selesai mendongeng gantian para orang tua dan guru yang berebutan berkonsultasi pada saya dan Elena Zachnas.

Kali ini para guru yang tidak datang pada saat workshop di Sangatta memaksa saya untuk berbagi materi workshop dalam waktu 30 menit. Walaupun lelah sehabis mendongeng, saya mengumpulkan tenaga untuk berbagi dengan mereka. Terutama ketika saya tahu alasan mengapa mereka tidak dapat ikut workshop. Alasan yang sangat sederhana, tidak ada kendaraan menuju Sangatta. Sedih mendengarnya…

Bengalon memiliki murid murid yang pandai dan antusias yang tidak akan pernah saya lupakan.
Sungguh berat kaki saya ketika saya meninggalkan desa Bengalon.

8 comments:

Kumpulan bercerita Yusof Gajah said...

senang membaca seseorang yang suka anak anak . may god bless you .

katakataono said...

wah Put, cerita loe inspiring bgt deh

Anonymous said...

hmmm... selain pandai mendongeng mba putri juga pandai menulis cerita...
cerita perjalanan ke sanggata bisa bikin aq berkaca-kaca kadang senang kadang terharu....
mungkin bagus kalo mba putri bikin buku...pasti keren banget...

mai-Tangerang

Lintas said...

maaf jika isi pesan berikut mengganggu aktivitas kamu.. aku cuma mau kasih tau aja, ada sebuah situs social bookmarking yang berisi kumpulan berita-berita menarik yang paling update diseluruh indonesia,dan memang situs ini berbasis bahasa indonesia... klo nggak keberatan tolong cek situs ini yah.. semoga bermanfaat..

>>> http://www.lintasberita.com

coba di share aja semua tulisan km di situs itu ,mudah2an bisa membantu naikkan traffic blog ini ,keep up the good post ok.. btw.. ever thought bout adding lintasberita's widget?? cek disini aja yah

>>> http://www.lintasberita.com/tools.php

thanks.... sory klo keliatannya spamming.. but seriously... im just helping you out here

dekry said...

Jadi inget sama Mas bim bim yang suka ngedongeng, asyik ya...bisa di kerumunin anak2 kecil....wiiiiiiiih menyenangkan. :)

Anonymous said...

iya mbak saya bisa ngebayangin betapa perjuangannya perjalanan ke bengalon dan begitu pula warga disana yang hidup penuh perjuangan
karena pernah diajak orangtua saya ngerintis kebun
kalo mbak sempet nginap pasti lampu utamanya hanya bulan
listrik belum nyampe
semoga pembangunan bisa sampai sana dan tempat terpencil lainnya di indonesia
sukses buat pekerjaannya mbak

视频斗地主 said...

Although there are differences in content, but I still want you to establish Links, I do not know how you advice!

nylon fishing net said...

Although there are differences in content, but I still want you to establish Links, I do not know how you advice!
Cargo Net